Payback & ROI PLTS Komersial untuk Pabrik: Contoh Hitungan 200 kWp
Untuk PLTS atap pabrik 200 kWp dengan investasi Rp 2,2 miliar, produksi 280.000 kWh per tahun dan tarif PLN sekitar Rp 1.100/kWh, payback sederhana sekitar 8 tahun dan IRR 25 tahun sekitar 10%, tanpa mengasumsikan kenaikan tarif. Tarif efektif yang lebih tinggi atau biaya per kWp di batas bawah memperpendek payback ke 6–7 tahun; self-consumption yang rendah memperpanjangnya ke 10 tahun lebih. Semua asumsi di bawah terbuka, sehingga Anda bisa mengulang hitungan dengan angka pabrik sendiri.
Asumsi kasus dasar
| Parameter | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Kapasitas | 200 kWp | Sistem atap on-grid dengan zero-export |
| Investasi (CAPEX) | Rp 2,2 miliar | Rp 11 juta/kWp, tengah rentang Rp 10–12 juta/kWp di halaman harga |
| Specific yield | 1.400 kWh/kWp/tahun | Rentang tipikal Indonesia 1.300–1.500 |
| Produksi tahun ke-1 | 280.000 kWh | 200 kWp × 1.400 |
| Self-consumption (SC) | 100% | Beban siang selalu lebih besar dari produksi |
| Tarif PLN | Rp 1.100/kWh | Perkiraan golongan I-3/TM di luar jam beban puncak; cek tarif triwulan berjalan |
| Kenaikan tarif | 0% per tahun | Asumsi konservatif |
| Degradasi modul | 0,5% per tahun | Rentang modul Tier-1 0,4–0,55% |
| O&M | Rp 40 juta/tahun | Paket Standard Rp 200 ribu/kWp/tahun |
| Penggantian inverter | Rp 200 juta, tahun ke-12 | Sekali dalam umur sistem, indikatif |
| Periode analisis | 25 tahun | Garansi performa modul 25–30 tahun |
Mengapa Rp 1.100 dan bukan "total tagihan dibagi total kWh"? Pelanggan tegangan menengah membayar tarif lebih tinggi untuk pemakaian di jam beban puncak (WBP) pada sore hingga malam hari. Produksi surya terjadi siang hari, di luar jam itu, sehingga yang digantikan PLTS adalah tarif di luar beban puncak. Rata-rata tagihan biasanya lebih tinggi dan membuat payback terlihat lebih cepat dari kenyataan. Rincian biaya investasinya dibedah di artikel RAB PLTS atap 200 kWp.
Arus kas tahun per tahun
| Tahun | Produksi (kWh) | Hemat (Rp jt) | O&M + inverter (Rp jt) | Arus kas (Rp jt) | Kumulatif (Rp jt) |
|---|---|---|---|---|---|
| 0 | – | – | – | −2.200 | −2.200 |
| 1 | 280.000 | 308 | 40 | 268 | −1.932 |
| 2 | 278.600 | 306 | 40 | 266 | −1.666 |
| 5 | 274.442 | 302 | 40 | 262 | −875 |
| 8 | 270.346 | 297 | 40 | 257 | −99 |
| 9 | 268.994 | 296 | 40 | 256 | 157 |
| 12 (inverter) | 264.979 | 291 | 240 | 51 | 716 |
| 15 | 261.024 | 287 | 40 | 247 | 1.462 |
| 20 | 254.564 | 280 | 40 | 240 | 2.676 |
| 25 | 248.263 | 273 | 40 | 233 | 3.855 |
Angka dibulatkan; tahun yang tidak ditampilkan mengikuti pola yang sama. Kumulatif berubah positif di tahun ke-9, sehingga payback dengan degradasi dan O&M sekitar 8,4 tahun. Di tahun ke-25 modul masih menghasilkan sekitar 89% dari produksi tahun pertama.
Payback, ROI dan IRR: hasil kasus dasar
| Indikator | Hasil kasus dasar |
|---|---|
| Payback sederhana (CAPEX ÷ arus kas tahun ke-1) | 2.200 ÷ 268 ≈ 8,2 tahun |
| Payback dengan degradasi dan penggantian inverter | ±8,4 tahun |
| Total penghematan tagihan 25 tahun | ±Rp 7,3 miliar |
| Total O&M dan penggantian inverter | Rp 1,2 miliar |
| Keuntungan bersih setelah investasi (nominal) | ±Rp 3,9 miliar |
| ROI 25 tahun (keuntungan ÷ investasi) | ±175% |
| IRR 25 tahun, tarif tetap | ±10,4% |
| IRR bila tarif naik 2% per tahun | ±12,7% |
| Biaya pokok listrik surya (tanpa diskonto) | ±Rp 515/kWh |
Cara menghitung IRR: IRR adalah tingkat diskonto r yang membuat nilai sekarang seluruh arus kas sama dengan nol: −CAPEX + Σ CFt ÷ (1 + r)t = 0 untuk t = 1 sampai 25, dengan CFt = arus kas bersih tahun ke-t. Fungsi IRR di Excel atau Google Sheets memberi hasil yang sama bila Anda memasukkan 26 angka arus kas tersebut. Pada kasus dasar IRR sekitar 10,4% — dua digit — dan setiap kenaikan tarif PLN mendorongnya lebih tinggi.
Biaya pokok listrik surya dihitung dari (CAPEX + O&M 25 tahun + penggantian inverter) ÷ total produksi 25 tahun, yaitu sekitar Rp 3,4 miliar ÷ 6,6 juta kWh. Artinya, setiap kWh dari atap Anda berharga pokok kurang dari separuh tarif PLN yang digantikannya.
Sensitivitas payback terhadap tarif PLN dan self-consumption
Dua variabel paling menentukan adalah tarif yang digantikan dan porsi produksi yang benar-benar terpakai. Karena listrik yang diekspor ke PLN tidak lagi mengurangi tagihan (lihat regulasi PLTS atap PLN), setiap kWh yang terpotong di hari libur bernilai nol. Tabel berikut berisi payback sederhana dalam tahun dengan CAPEX Rp 2,2 miliar, produksi 280.000 kWh dan O&M Rp 40 juta per tahun:
| Tarif PLN (per kWh) | Payback, SC 100% | SC 90% | SC 80% | IRR (SC 100%) |
|---|---|---|---|---|
| Rp 1.000 | 9,2 | 10,4 | 12,0 | ±8,9% |
| Rp 1.100 | 8,2 | 9,3 | 10,7 | ±10,4% |
| Rp 1.200 | 7,4 | 8,4 | 9,6 | ±11,9% |
| Rp 1.300 | 6,8 | 7,6 | 8,8 | ±13,3% |
Rumus tiap sel: 2.200 ÷ (280.000 × SC × tarif − 40 juta). Contoh: tarif Rp 1.100 dan SC 90% memberi 2.200 ÷ (277 − 40) ≈ 9,3 tahun. Pabrik yang libur hari Minggu dan hari libur nasional punya sekitar 65–70 hari setahun dengan beban rendah; bila sistemnya terlalu besar, self-consumption mudah turun ke 85–90%.
Rentang payback 5–8 tahun yang sering dikutip untuk PLTS pabrik membutuhkan kombinasi tarif efektif sekitar Rp 1.300/kWh atau lebih, biaya per kWp di batas bawah, dan self-consumption mendekati 100%.
Sensitivitas terhadap biaya sistem dan yield
| Skenario | CAPEX | Yield | O&M/tahun | Payback | IRR |
|---|---|---|---|---|---|
| Optimis | Rp 2,0 M | 1.500 | Rp 30 jt | 6,7 th | 13,6% |
| Dasar | Rp 2,2 M | 1.400 | Rp 40 jt | 8,2 th | 10,4% |
| Konservatif | Rp 2,4 M | 1.300 | Rp 50 jt | 10,2 th | 7,6% |
M = miliar, jt = juta, th = tahun, yield dalam kWh/kWp per tahun; payback sederhana, IRR 25 tahun. Semua skenario memakai tarif Rp 1.100/kWh, SC 100%, degradasi 0,5% per tahun dan penggantian inverter Rp 200 juta di tahun ke-12. Yield ditentukan lokasi, orientasi dan kebersihan modul; CAPEX ditentukan jenis atap, jarak kabel dan skala proyek.
Mengulang hitungan dengan data pabrik Anda
- Perkirakan pemakaian listrik siang pada hari kerja dari pola shift atau data meter; kapasitas PLTS disetel agar produksinya terserap beban itu.
- Produksi tahunan = kWp × 1.300–1.500 kWh.
- Penghematan = produksi × self-consumption × tarif di luar beban puncak.
- Payback = CAPEX (kWp × Rp 10–12 juta) ÷ (penghematan − O&M).
Contoh perhitungan untuk 300 kWp (ilustrasi): produksi 420.000 kWh × SC 95% × Rp 1.100 = Rp 438,9 juta; dikurangi O&M Rp 60 juta menjadi Rp 378,9 juta per tahun; CAPEX 300 × Rp 11 juta = Rp 3,3 miliar; payback ≈ 8,7 tahun.
Hitung Payback Pabrik Anda via WhatsApp
Yang mempercepat dan memperlambat payback
- Sizing ke beban siang — menjaga self-consumption mendekati 100%; faktor yang paling bisa dikendalikan saat desain.
- Biaya per kWp lebih rendah — atap metal bersih, jarak kabel pendek, dan skala proyek yang lebih besar menekan CAPEX.
- Monitoring aktif — inverter yang trip atau string yang mati bisa memangkas produksi berminggu-minggu tanpa terlihat; alarm real-time memotong waktu itu.
- Kenaikan tarif PLN — tidak kami asumsikan di kasus dasar, tetapi setiap kenaikan langsung menambah penghematan.
- Yang memperlambat — sistem terlalu besar sehingga produksi terpotong, perkuatan struktur atap yang tidak terduga, dan baterai tanpa alasan backup yang jelas (lihat on-grid vs hybrid).
Mau hitungan untuk pabrik Anda? Kirim tagihan PLN dan luas atap; kami balas dengan kapasitas, produksi, penghematan dan payback per skenario, mulai dari panel surya hingga paket EPC turnkey.
Pertanyaan umum tentang payback dan ROI PLTS
Berapa payback PLTS atap pabrik 200 kWp?
Berapa IRR PLTS komersial untuk pabrik?
Tarif PLN berapa yang dipakai dalam hitungan?
Mengapa self-consumption sangat berpengaruh?
Apakah biaya penggantian inverter sudah dihitung?
Baca juga: Biaya PLTS Atap 200 kWp: Rincian RAB · Regulasi PLTS Atap untuk Bisnis · Panduan Lengkap PLTS Atap Pabrik