PLTS Jakarta: PLTS Atap & Carport untuk Mal, Kantor dan Pabrik
Di Jakarta, PLTS komersial lebih sering dipasang di atas mal, gedung perkantoran, rumah sakit dan gudang dalam kota daripada di pabrik besar — ditambah kantong industri seperti Kawasan Industri Pulogadung (JIEP) dan KBN Cakung. Untuk PLTS Jakarta, satu kontrak EPC mencakup desain, pemasangan, pengajuan ke PLN UID Jakarta Raya, SLO dan monitoring.
Beban gedung komersial di Jakarta didominasi pendingin: chiller mal dan AC perkantoran bekerja paling berat antara pukul 10.00 dan 15.00, bersamaan dengan jam produksi surya. Karena itu hampir semua kWh dari PLTS terpakai sendiri — asalkan kapasitasnya disetel ke beban hari libur, saat kantor kosong.
Atap gedung tinggi: ruang sempit, bayangan & akses
Atap gedung di Jakarta jarang kosong: cooling tower, AHU, tangki air dan jalur maintenance mengambil sebagian besar area, dan gedung tetangga menimbulkan bayangan. Solusinya: pemetaan bayangan per jam, modul dengan watt per meter persegi lebih tinggi, dan pembagian string per zona dengan inverter multi-MPPT atau optimizer, supaya bayangan di satu sudut tidak menarik turun produksi zona lain. Di atap beton dak, struktur memakai pemberat (ballast) atau angkur kimia sesuai hasil cek beban pelat; material diangkat lewat lift barang atau crane di luar jam operasional gedung.
Pulogadung, KBN Cakung & gudang dalam kota
Kawasan Industri Pulogadung dan KBN Cakung berisi pabrik garmen, makanan, percetakan dan gudang dengan atap baja yang lebih sederhana untuk PLTS: beban sekitar 12–15 kg/m² kami bandingkan dengan kapasitas gording, lalu panel dipasang dengan klem. Banyak bangunannya sudah tua, jadi kondisi lembaran atap kami periksa lebih dulu. Gudang di Jakarta Utara dekat Tanjung Priok memerlukan material struktur tahan korosi karena udara laut.
Contoh perhitungan mal: atap 350 kWp + carport 150 kWp
Contoh ilustrasi, bukan proyek nyata — mal golongan B-3/TM dengan beban chiller siang di atas 1 MW. Atap efektif cukup untuk 350 kWp; sisanya ditambah solar carport di parkir terbuka:
| Bagian sistem | Kapasitas | Investasi indikatif |
|---|---|---|
| PLTS atap (Rp 10–12 juta/kWp) | 350 kWp | Rp 3,5–4,2 miliar |
| Solar carport (Rp 11–15 juta/kWp) | 150 kWp | Rp 1,65–2,25 miliar |
| Total | 500 kWp | Rp 5,15–6,45 miliar |
Dengan produksi 1.300–1.400 kWh per kWp, sistem 500 kWp menghasilkan 650.000–700.000 kWh per tahun. Pada tarif jam LWBP sekitar Rp 1.100/kWh (perkiraan, cek tarif triwulan berjalan), penghematannya Rp 715–770 juta per tahun dan payback sederhana sekitar 6,7–9,0 tahun. Atap 350 kWp saja memberi payback sekitar 6,5–8,4 tahun; carport memperpanjangnya karena strukturnya lebih mahal, tetapi menambah peneduh parkir dan titik pengisian EV.
Gedung dengan daya sampai 200 kVA (golongan B-2/TR) membayar tarif lebih tinggi, sekitar Rp 1.445/kWh, sehingga payback-nya lebih pendek pada ukuran sistem yang sama. Harga carport dan PLTS atap per kWp ada di halaman harga.